Get me outta here!

Tuesday, February 26, 2019

Harga LMPV Renault Lebih Bisa Dijangkau ?


Pasar LMPV di Indonesia tampaknya akan semakin beragam. PT Maxindo Renault Indonesia (MRI) akan mengimpor LMPV ke Indonesia. LMPV tersebut disebutkan akan beririsan dengan segmen LCGC yang harganya relatif terjangkau. 

Bila menyasar ke dua segmen, kemungkinan jantung mekanis yang diadopsi LMPV Renault ini tak jauh dari 1.200 cc dan harganya terjangkau. Pasalnya, aspek ini memang merupakan syarat dalam regulasi LCGC. Sayangnya, saat dikonfirmasi, Davy enggan membongkar lebih jauh. Mobil tersebut, diprediksi adalah Renault terbaru yang dibangun dari platform CMF-A+ yang dipanjangkan. Platform versi kecilnya digunakan oleh Kwid. Unit ini bahkan sudah masuk tahap pengujian jalan di India.

 “Waktu pengumuman perdana, kami sempat mengutarakan akan menghadirkan segmen LMPV dan beririsan dengan segmen LCGC. Saya terus terang saja itu pun sebatas yang saya tahu. Kami baru akan melihat produknya beberapa saat ke depan. Jadi mohon maaf belum bisa share banyak,” jelasnya.

Format ekspor yang akhirnya membuat Renault RBC tak bisa masuk skema LCGC yang mensyaratkan produksi domestik dengan tingkat kandungan lokal sangat tinggi. Belum lagi Renault Indonesia belum menetapkan strategi konkret untuk membangun pabrik di Tanah Air. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana Renault bisa menerapkan harga kompetitif untuk LMPV itu bila statusnya CBU? Padahal pesaingnya sudah memproduksinya secara lokal. Lagi-lagi MRI enggan memaparkannya.

Director After Sales Network & Service Quality Renault Asia Pasific Ltd Xavier Kaufman, hanya mengungkapkan pihaknya bakal mendapatkan dukungan dari Renault Global, agar harga LMPV itu bisa terjangkau.

Perakitan secara lokal atau CKD (completely knocked down) memang menjadi bagian dari rencana Renault untuk memperkuat mereknya di Tanah Air. Namun, Renault masih melakukan studi, agar pengaplikasiannya tepat sasaran. Termasuk unit yang diproduksi, entah LMPV atau model lain.

“Ide untuk CKD Renault di Indonesia tetap ada, walau saat ini masih proses studi, guna memastikan produk yang di-CKD-kan benar-benar sesuai dengan selera Indonesia. Jadi untuk timing dan jenis unit masih dalam studi, karena tak gampang,” terang Xavier.

Tentang kemungkinan memanfaatkan Aliansi Nissan-Mitsubishi, Renault pun tak menampiknya. Mengingat kedua pabrikan itu memiliki pabrik di Indonesia. Pemanfaatan aliansi tentunya menjadi salah satu strategi untuk menghadirkan produk yang dapat bersaing, khususnya dari harga jual kompetitif.

“Ya, di Indonesia ada pabrik Nissan dan Mitsubishi. Jadi sangat wajar kalau suatu saat Renault punya opportunity memanfaatkan pabrik-pabrik itu,” tutup Xavier.

0 comments:

Post a Comment