Get me outta here!

Thursday, November 28, 2019

3 PR Timnas Indonesia U-16 yang Harus Segera Dibenahi Bima Sakti


Timnas Indonesia U-16 baru saja mencatatkan prestasi membanggakan setelah lolos ke putaran final Piala Asia U-16 2020 di Bahrain. Namun demikian, ada beberapa pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi Pelatih Bima Sakti di tubuh Timnas Indonesia U-16. Terkait itu Bolanusantara mencoba mengulas secara lengkap kekurangan yang harus dibenahi oleh pelatih Bima Sakti.

Garuda Asia berhasil merebut tiket putaran final Piala Asia 2020 setelah menjadi runner-up terbaik. Hasil itu didapat usai Timnas Indonesia U-16 menahan imbang 0-0 Cina pada laga terakhir Grup G.

Tambahan satu poin membuat Marcelino Ferdinand berada di posisi runner-up dengan koleksi tujuh poin dari tiga laga. Mereka hanya kalah selisih gol dari Cina yang kukuh di pucuk klasemen dengan poin sama. 

Kendati demikian, hasil tersebut sudah cukup bagi Timnas Indonesia U-16 meraih satu tiket ke Piala Asia 2020. Sebab, selain juara grup, ada empat tim dengan status runner-up terbaik yang berhak mentas di Bahrain tahun depan.

Prestasi ini tentu sangat membanggakan pecinta Timnas Indonesia di Tanah Air. Sebab, sekali lagi, tim nasional kelompok umur bisa mencatatkan prestasi yang mengesankan.

Kian membanggakan karena Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang lolos ke putaran final Piala Asia 2020. Itu berarti kita sukses mengungguli negara-negara jagoan di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.

Sayangnya di balik hingar bingar euforia kesuksesan Timnas Indonesia U-16 merebut final Piala Asia 2020 ada beberapa kekurangan yang harus segera dibenahi oleh Bima Sakti.

Bola Nusantara mencatat setidaknya ada tiga pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan Bima Sakti jika ingin kembali meraih prestasi di ajang Piala Asia 2020 mendatang.

Berikut ulasannya:

1. Fisik & Stamina
Pada laga melawan Cina, Timnas Indonesia U-16 berhasil mematahkan prediksi para pecinta sepak bola. Pada awal babak pertama, Timnas Indonesia U-16 sukses berulang kali mengancam gawang Cina dengan serangan-serangan cepat dari sisi sayap kiri.

Posisi tersebut ditempati oleh Rui Harianto dan Alexander Felix Kamuru. Kecepatan dua pemain ini sukses membuat barisan pertahanan Cina kocar-kacir.

Sementara saat bertahan, para pemain juga terlihat memiliki determinasi tinggi. Mereka terus berlari mengejar bola untuk menghentikan serangan lawan. 

Tak jarang, para pemain Timnas Indonesia U-16 sampai harus terjengkang di lapangan kala berduel dengan pemain Cina yang lebih besar postur tubuhnya.

Tapi kalau dilihat secara jeli, gaya main ini harus ditopang dengan stamina dan fisik yang kuat. Jika saja tak bisa menghitung kekuatan tubuh maka para pemain akan menurun performanya.

Hal itu terlihat setidaknya pada babak kedua. Para pemain Timnas Indonesia U-18 tampak sangat kelelahan. Hasilnya, beberapa umpan yang dilepaskan seringkali salah sasaran.

Beruntung pada babak kedua, pemain Timnas Cina juga mengalami penurunan kondisi fisik. Jadi tak cuma Timnas Indonesia U-16 yang sering melakukan kesalahan, lawan pun juga mengalami itu.

Bayangkan saja jika Timnas Indonesia U-16 bertemu dengan lawan yang memiliki fisik dan stamina yang lebih kuat. Bukan tidak mungkin pada babak kedua, peluang lawan mencetak gol lebih terbuka.

2. Penyelesaian Akhir
Timnas Indonesia U-16 memang mencetak total 26 gol sepanjang Grup G. Tapi bukan berarti penyelesaian akhir Marselino Ferdinan dan kawan-kawan sudah bagus.

Setidaknya ketika berhadapan dengan lawan seimbang seperti Cina, kualitas penyelesaian akhir Timnas Indonesia U-16 terlihat masih belum bagus.

Terlihat beberapa kali sepakan Athallah Araihan dan Marcelino Ferdinand masih harus diperbaiki. Ada momen ketika Marcelino berdiri bebas di kotak penalti Cina dan menerima bola liar di kakinya. Sayang sepakannya masih melambung. 

Lalu ada momen ketika Athallah Araihan menusuk ke dalam kotak penalti tapi melepaskan tembakan yang membentur tiang gawang. Catatan ini tentu harus segera dibenahi oleh Bima Sakti. Sebab, ketika mendapatkan peluang bersih seharusnya para pemain bisa mencetak gol.

Tak cuma penyelesaian akhir, keputusan melepas umpan akhir juga harus diperbaiki. Marcelino yang memiliki kekuatan individu kerap kali telat memberi umpan.

Belum lagi, pemain sayap ketika melepaskan umpan silang tak maksimal. Seperti yang dilakukan Rui dan Mochammad Faisal pada laga melawan Cina.

3. Pengaturan Tempo
Faktor terakhir sebenarnya berkesinambungan dengan faktor pertama. Pengaturan tempo pertandingan Timnas Indonesia U-16 juga belum optimal.

Para pemain belum tahu kapan harus menurunkan tempo atau meningkatkan tempo laga. Waktu menghadapi Cina terlihat sekali Timnas Indonesia U-16 bermain dengan tempo cepat nyaris selama 90 menit laga berlangsung.

Akibatnya, fisik dan stamina para pemain Timnas Indonesia U-16 pun langsung merosot.

Tugas mengatur tempo seharusnya dipegang oleh pemain gelandang tengah. Itu berarti Aditya Daffa yang seharusnya memiliki peran mengatur tempo.

Namun pada laga ini, Daffa justru meladeni permainan tempo cepat Cina. Walhasil, Daffa pun kehabisan tenaga dan harus digantikan oleh Valeron.

Note: Ayo Mainkan, menangkan, kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan rebut hadiah keren dengan hanya memainkan Game Seru Bola Nusantara! Caranya Download dulu aplikasinya di sini

0 comments:

Post a Comment